Pages

20 Januari 2009

ketika sang mentari tiba



yang menyembul dari ufuk timur
melipat kelam menjadi cerah
sinar hangatmu menerpa wajah yang menanti
menyirami bumi tempat kaki berpijak

ditemani gemerisik suara desir angin
tarian pagi kumulai dari hirup nafasku
berjalan beriringan dengan langkah inginku
menapaki jalan yang berhias hijau rumput
mewangi melati dan bertetes embun

selamat datang pagi
selamat pagi keindahan...

12 Januari 2009

gift on my 12


hatiku bukan seputih pualam
juga bukan sekuat kekal
bisa terkoyak dan tertembus
ada ruang ruang yang terpanah
menyisakan rasa di detik inginku...

hanya ada aku dan rasa bersyukur yang dalam
ketika di hari ini tertumpah limpahan cinta yang berwarna indah
sebuah pemberian yang deras mengalir tiada henti
melebihi dari apa yang tercukupkan hasrat

sebuah pemberian yang menghias di tema kehidupanku
melantun melalui sebuah irama lagu
kudengarkan dan kunikmati sekali lagu ini
sebuah hadiah yang menyentuh...


"Lubang Di Hati"

by letto

Ku buka mata dan ku lihat dunia
‘tlah ku terima anugerah cintanya
Tak pernah aku menyesali yang ku punya
Tapi ku sadari ada lubang dalam hati

Ku cari sesuatu yang mampu mengisi lubang ini
Ku menanti jawaban apa yang dikatakan oleh hati...

Apakah itu kamu.. apakah itu dia..
Selama ini ku cari tanpa henti
Apakah itu cinta.. apakah itu cita..
Yang mampu melengkapi lubang di dalam hati

Ku mengira hanya dialah obatnya
Tapi ku sadari bukan itu yang kucari
Ku teruskan perjalanan panjang yang begitu melelahkan
Dan ku yakin kau tak ingin aku berhenti...

Apakah itu kamu.. apakah itu dia..
Selama ini ku cari tanpa henti
Apakah itu cinta.. apakah itu cita..
Yang kan mengisi lubang di dalam hati


third album cover lethologica from here

11 Januari 2009

pagi pertama


di keheningan pagi saat dingin masih menusuk
pada embun yang sama
pada kabut tipis yang sama
pinus dan cemara masih diam terpaku disana
burung-burung pun masih riang berkicau

suasana pagi itu tak akan pernah berubah
oleh apa yang terjadi pada malam sebelumnya
malam pergantian tahun masehi kata dunia
sebuah peristiwa yang hanya menandai almanak saja

seperti tak terpengaruh atas apa yang terjadi
pagi yang sama akan selalu datang seperti biasanya
yang setia menyelimutiku dengan kesejukkannya
menyegarkan segala lelah pikir
memberi kehangatan di sinar mentari
mengiringi langkahku memetik cinta di biru cerah...

photo from here

06 Januari 2009

lavender girl


yang melalap edelweis selezat daun singkong
berteman dengan kata-kata indah
bersahabat dengan tulisan mengalir berirama
irama dari sulur-sulur hati bersihnya

hujan adalah nama tengahnya
penikmat yang baik dalam menelusur perut bumi
menyukai jejak sejarah para leluhur
hingga berpose nyaris berpadu serasi dengan arca-arca itu
atau menjelma seperti reruntuhan purbakala yang bernilai tinggi

mengkitik-kitik dengan galaknya
semakin galak semakin menggelitik tawa
senyum manisnya menggoda di kerinduan
pantas saja kalau ia menghantui banyak kaum adam...

pic from here

02 Januari 2009

kamu terkapar lagi disana...


seperti ingin mengejar sesuatu
atau seperti dikejar sesuatu
ingin memberikan sebuah warna
yang sudah lama dipersiapkannya
tetapi masih pias yang tertoreh

ditaklukkan oleh sebuah gelombang besar bernama tanggung jawab, mendorongnya dengan arus yang sangat kuat, tak kuasa membendung, terbawalah kamu oleh arus kesibukan itu...

entah dedemit apa lagi yang berhasil menutupinya dari segala pemenuhan hak tubuh yang semakin dilupakan dan terbengkalai, dalihnya hasrat membara, kembali kamu abaikan hak tubuh yang terus menjerit itu, bahkan dengan menambah beban lelah yang berlipat-lipat dengan memacu menapak di terjal dan curamnya pegunungan tropis, anak badai kamu lawan, beruntunglah ia tak memanggil sang ayah badai, saat ini kan musim penghujan, kamu tahu itu, sang ayah badai terkadang datang tanpa dipanggil, membawa serta sang ibu hipotermia, ibu tiri yang mematikan...

tetapi apa daya ada film lama yang ingin kamu putar rupanya, lengkap bersama popcorn kenangan dan segelas sisa-sisa kehangatan wedang nostalgia yang siap menemani...

hak tubuh itu kini tak lagi menjerit, tetapi mengambil alih dengan paksa dan hasilnya terkaparlah kamu dengan manisnya, hehehe... emang masih manis kah dirimu jika sedang terkapar ;)

28 Desember 2008

bawalah suaraku...


akulah arca yang terpahat dari aksara hatiku
bawalah terbang wahai semilir angin
suara yang berbicara lewat relung hati...
suara yang ingin bertutur dengan sapa lembut...
suara yang melantunkan irama kerinduan...

terinspirasi dari lirik lagu "suaraku" oleh hijau daun di bawah ini :

Disini aku masih sendiri
Merenungi hari-hari sepi
Aku tanpamu
Masih tanpamu

Bila esok hari datang lagi
Mencoba untuk hadapi semua ini
Meski tanpamu... meski tanpamu

Bila aku dapat bintang yang berpijar
Mentari yang tenang bersamaku disini
Ku dapat tertawa menangis merenung
Di tempat ini aku bertahan

Suara dengarkanlah aku
Apa kabarnya pujaan hatiku
Aku disini menunggunya
Masih berharap di dalam hatinya

Suara dengarkanlah aku
Apakah aku slalu dihatinya
Aku disini menunggunya
Masih berharap di dalam hatinya

Walau aku masih tetap disini
Ku lewati semua yang terjadi
Aku menunggumu...aku menunggu


17 Desember 2008

little hari


aku dan ketiga adikku, hehehe...
tubuh kecil bergelak tawa riang
diantara lari dan lompat cerianya
celoteh nyaring merentang dalam riuh
memecah di angin dulu, yang menemani pertumbuhanku

mencari ikan yang seakan bisa kutangkap dengan tangan kosong
berkubang lumpur sawah karena mengejar burung emprit
layang-layang dan capung menjadi buruan berikutnya
menelusuri lubang persembunyian belut dan kepiting
membidik jambu dan mangga tetangga dengan ketapel

berkalang tanah karena kakiku menjejak tanpa alas

sawah dan ladang yang membentang...
selalu saja memberikan limpahan permainan buatku
menyediakan segala cipta kreasi yang mengasyikkan
tak sadar hingga tubuh pun bau kemarau
menyimpan sebagian terik di kulit
bermandikan cahaya terang matahari

teringat masa kecilku yang begitu indahnya dulu...

14 Desember 2008

piala itu pasti membawa pesan...



Masuk nominasi saja berita itu sudah seperti sebuah pelepas dahaga kesejukkan bagai oase di padang pasir, apalagi menjadi yang terbaik, wuihh seperti mata air zam-zam yang mengalir dengan deras saja rasanya, itulah analogi ayas ketika “The Conductors” dinyatakan sebagai film Dokumenter terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI 2008) jum’at 12 Desember lalu di Bandung, belum lupa dari ingatan ketika 20 Februari lalu film ini pertama kali ditayangkan di Blitz Megaplex secara regular bersanding manis dengan film-film box office juga premierenya di Malang yang selalu dipadati penonton, bahkan Dieng Plaza 21 waktu itu hampir mirip tribun kelas ekonomi stadion kanjuruhan saking penuh sesaknya antusias warga malang khususnya para aremania, oleh karena itu ada sebuah rasa suka cita yang begitu mengena dan terharu ayas kira yang kini di amini oleh seluruh aremania se jagat raya dan galaksi atas apresiasi yang begitu tinggi terhadap lahirnya sebuah karya Dokumenter di kancah penghargaan dari para senias perfilman tanah air.

Dan kini kita semua diajak bagaimanakah sepatutnya menyikapi sebuah penghargaan, bisa diartikan mau seperti apa yang ingin kita dirasakan, apakah sebagai sebuah motivasi, atau sebagai sebuah pujian sajakah, atau sebagai apa..., tentunya berpulang pada isi hati si penerima penghargaan itu, ayas yakin pasti ada yang jauh lebih penting dari hanya sekedar sebuah piala dan lembar penghargaan, ada hikmah mendalam yang bisa di petik di balik semua itu untuk bekal perjalanan ke depan yang tidak melulu mulus dan lancar...

Selamat ya buat andibachtiar yusuf dan Team dengan Bogalakon Picturenya hehehe... itu nama beken umak ya sekarang, kalau ayas sih masih lebih suka menuliskan nama umak sebagai m yusuf as karena mengingatkan ayas ketika dulu seringkali menyontek PR umak yang diberikan di kelas A3 “social or die” di bangku SMA Lab School kala itu, mengenai karya umak selanjutnya Romeo*Juliet alias romjul semoga tercapai di garis finish nanti, kalau ada aral melintang hadapi saja karena itu sebuah proses, seorang pelari gawang pun harus melompati gawangnya untuk mencapai garis finish, you do the right track now jangan keluar lintasan, diskualifikasi akan menggagalkan umak menyentuh garis akhir...

seng durung ndelok filem The Conductors lang ndelok o ker, iki loh tagline ne, wes tala kipa kipa, mengandung mboisss puolll...

“Not all of us were born to lead”

A man with talent with the ability to compose beautiful music and conduct a magical orchestra, a man with his pride who can lead 5000 singer in one single choir and a man with passion who lead 50.000 people to sing and dance. Three men who were born gifted, three men with their special charm, three men who were born to lead. The Conductors, movie that also played in Jiffest 2007 will show us how those 3 person lead their own team with different ways but still become one harmony.