Pages

Tampilkan postingan dengan label Aremania. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aremania. Tampilkan semua postingan

12 Oktober 2009

senja di kanjuruhan..



Sinar mentari sore masih terasa hangat ketika pergerakan manusia itu mengalir seperti air, terus berdatangan dari berbagai penjuru, setangkup antusias yang begitu menyala-nyala mengiringi langkah kaki menjejak memasuki stadion kanjuruhan..

Sore itu adalah laga perdana tim singo edan di kancah liga Indonesia musim kompetisi 2009/2010, sebuah laga pertama yang langsung bertitel “BIG MATCH” karena lawan yang harus dihadapi adalah Persija Jakarta, tak heran jika stadion berkapasitas 50.000 orang itu begitu cepat terisi penuh bahkan sampai meluber ke pinggir lapangan karena banyaknya penonton yang terus berdatangan walau kapasitas stadion sudah terisi full..

Suka cita dan riuh kegembiraan menghiasi suasana stadion saat gol yang ditunggu-tunggu tercipta menggetarkan jala gawang lawan, walau hanya sebiji gol namun sudah cukup untuk menambah motivasi menjadi berlipat-lipat sebagai modal awal bagi pertandingan selanjutnya nanti..

..dan suara pluit panjang pun terdengar menandai berakhirnya pertandingan di ujung senja..

Senja yang sama seperti kemarin, tapi temaramnya terlihat sedikit lebih indah sore itu karena sebuah kemenangan manis yang menyertainya..

Kemenangan manis untuk AREMA...

11 Agustus 2009

my ongis is 22 now




hari ini 22 tahun yang lalu..
cikal bakal itu lahir dari bumi arema
sebuah tim bal-balan arek-arek malang
berangkat dengan satu tekad dan mental juara
kita disini arema mengaum dari kandang singa

melakukan ketrampilan mengolah si kulit bundar
dengan peragaan sepakbola menyerang
ngeyel, keras dan pantang menyerah..

teruslah berjuang arema..
jangan terkikis oleh kezoliman pihak manapun
aremania selalu mendukungmu
dimanapun berlaga kami selalu ada
satukan tekad kobarkan semangad

singone singo edan
edane nang lapangan
gak peduli nang kandang lawan
singo edan kudu menang

lek berjuang kudu mbelo sing lemah
lek berjuang mbelo sing mapan
podo karo nguruki gunung

melihat dunia dari tikungan
melihat dunia dari persimpangan
banyak melihat persoalan
yang melahirkan kesadaran

satukan jiwa
satukan rasa
damai di hati
kita bersaudara

secuplik syair lagu dari sam anto baret

happy birthday singo edan
you’ll never walk alone..

28 Januari 2009

no smoking please...





ini bukan pertandingan resmi, hanya laga bertajuk uji coba atau sekedar pertandingan persahabatan saja sebagai ajang pemanasan untuk pertandingan sesungguhnya nanti 2 februari, namun stadion begitu padat penonton, daya tarik aremania tidak lain dan tidak bukan adalah ingin menyaksikan sang bintang pujaan mereka Patricio "pato" Morales berlaga, sejak kedatangannya kembali di bhumi arema, pato memang sangat ditunggu, tak heran jika dalam sesi latihan saja animo masyarakat yang menyaksikannya begitu membludak, sore itu singo edan menekuk persid jember 3-0 memang bukan kemenangan yang dicari atas tim divisi 1 itu tetapi lebih tepat sebagai ajang mematangkan formasi yang terbaik dari amunisi baru yang berhasil di rekrut oleh skuad singo edan.

laga ujicoba yang diticketkan, panpel rupanya cukup jeli melihat peluang ini, maka di bandrollah HTM untuk kelas ekonomi Rp.10.000 dan kelas VIP Rp.20.000, dalam kesempatan ini dimanfaatkan pula untuk ajang promosi produk dari sebuah perusahaan rokok sebagai pemegang saham terbesar Tim Arema, caranya yaitu setiap pembelian ticket akan mendapatkan 1 bungkus rokok produksi sponsor utama Tim Arema, dari awal sebelum membeli ticket aku sudah berpikir keras akan di apakan nantinya 1 bungkus rokok tersebut mengingat diriku yang tidak mengkonsumsi rokok, menyebalkan juga aku yang tidak menyukai kehadiran rokok dan sejenisnya malah di haruskan membeli walau dengan cara promosi dalam sebuah event olahraga, jika kuberikan pada seseorang itu sama saja aku menyuruh orang tersebut untuk menghisap nikotin dan zat berbahaya lainnya ke dalam paru-parunya, ada baiknya kumusnahkan saja terlebih dahulu sebelum ku lempar ke tempat sampah agar tidak lagi bisa di manfaatkan...

14 Desember 2008

piala itu pasti membawa pesan...



Masuk nominasi saja berita itu sudah seperti sebuah pelepas dahaga kesejukkan bagai oase di padang pasir, apalagi menjadi yang terbaik, wuihh seperti mata air zam-zam yang mengalir dengan deras saja rasanya, itulah analogi ayas ketika “The Conductors” dinyatakan sebagai film Dokumenter terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI 2008) jum’at 12 Desember lalu di Bandung, belum lupa dari ingatan ketika 20 Februari lalu film ini pertama kali ditayangkan di Blitz Megaplex secara regular bersanding manis dengan film-film box office juga premierenya di Malang yang selalu dipadati penonton, bahkan Dieng Plaza 21 waktu itu hampir mirip tribun kelas ekonomi stadion kanjuruhan saking penuh sesaknya antusias warga malang khususnya para aremania, oleh karena itu ada sebuah rasa suka cita yang begitu mengena dan terharu ayas kira yang kini di amini oleh seluruh aremania se jagat raya dan galaksi atas apresiasi yang begitu tinggi terhadap lahirnya sebuah karya Dokumenter di kancah penghargaan dari para senias perfilman tanah air.

Dan kini kita semua diajak bagaimanakah sepatutnya menyikapi sebuah penghargaan, bisa diartikan mau seperti apa yang ingin kita dirasakan, apakah sebagai sebuah motivasi, atau sebagai sebuah pujian sajakah, atau sebagai apa..., tentunya berpulang pada isi hati si penerima penghargaan itu, ayas yakin pasti ada yang jauh lebih penting dari hanya sekedar sebuah piala dan lembar penghargaan, ada hikmah mendalam yang bisa di petik di balik semua itu untuk bekal perjalanan ke depan yang tidak melulu mulus dan lancar...

Selamat ya buat andibachtiar yusuf dan Team dengan Bogalakon Picturenya hehehe... itu nama beken umak ya sekarang, kalau ayas sih masih lebih suka menuliskan nama umak sebagai m yusuf as karena mengingatkan ayas ketika dulu seringkali menyontek PR umak yang diberikan di kelas A3 “social or die” di bangku SMA Lab School kala itu, mengenai karya umak selanjutnya Romeo*Juliet alias romjul semoga tercapai di garis finish nanti, kalau ada aral melintang hadapi saja karena itu sebuah proses, seorang pelari gawang pun harus melompati gawangnya untuk mencapai garis finish, you do the right track now jangan keluar lintasan, diskualifikasi akan menggagalkan umak menyentuh garis akhir...

seng durung ndelok filem The Conductors lang ndelok o ker, iki loh tagline ne, wes tala kipa kipa, mengandung mboisss puolll...

“Not all of us were born to lead”

A man with talent with the ability to compose beautiful music and conduct a magical orchestra, a man with his pride who can lead 5000 singer in one single choir and a man with passion who lead 50.000 people to sing and dance. Three men who were born gifted, three men with their special charm, three men who were born to lead. The Conductors, movie that also played in Jiffest 2007 will show us how those 3 person lead their own team with different ways but still become one harmony.

10 Desember 2008

silahturahmi suporter indonesia damai ke-2








Stadion Gajayana menjadi magnet dari kegiatan silahturahmi supporter Indonesia Damai yang kedua sabtu itu, dari pagi buta hingga tengah malam, kalau bahasa walikan khas malangnya mulai isuk sampe ingeb ker, dimulai dari apel akbar gerakan anti narkoba kemudian ribuan aremania melakukan konvoi simpatik mengelilingi kota, dilanjutkan dengan dialog mengenai persepakbolaan tanah air khususnya mengenai pencapaian suasana perdamaian di kalangan supporter seluruh Indonesia yang dihadiri perwakilan dari menegpora, mendagri, dan para supporter dari seluruh Indonesia, memang tidak semua supporter mengirimkan perwakilannya tetapi sebagian besar telah memberikan dukungannya lewat semangat dan loyalitas rasa persaudaraannya, turut hadir bapak Walikota dan Bupati malang serta para tokoh supporter, ada pula kegiatan gelar tinju amatir, bazaar, flying fox, fun soccer, dan festival band supporter, akhir acara dibacakanlah ikrar supporter Indonesia damai diikuti seluruh insan manusia yang hadir pada saat itu atas nama makhlug Tuhan yang mencintai perdamaian, solidaritas sesama dan rasa kemanusiaan, dan malam harinya penampilan d’kross yang sangat memukau menutup serangkaian acara silahturahmi...

Kami suporter Indonesia,
menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas, anti rasialis dan anti anarkis.
Kami suporter Indonesia,
bersatu, bersama, bersaudara, dengan semangat satu jiwa
Kami suporter Indonesia,
siap menjaga persatuan dan kesatuan bangsa

See you next year in wamena for Indonesia Damai part 3...

photo lainnya bisa dilihat di sini

02 Desember 2008

bye bye COPA...






sore itu first leg COPA INDONESIA masih beberapa jam lagi di mulai tetapi hujan mengguyur dengan derasnya sejak siang tadi, seperti biasa stadion kanjuruhan mulai dipadati aremania dua atau tiga jam sebelumnya yang rela berhujan-hujan ria bersama ribuan penonton di tribun ekonomi yang tidak beratap, tidak ada payung disana karena selain akan menghalangi penonton di belakangnya juga terasa janggal rasanya bermanis-manis ria dengan payung.
dan hujan pun berhenti tepat beberapa saat sebelum kick off pukul 15:30 dimulai, sepertinya hujan sore itu membawa sebuah pertanda buruk bagi tim singo edan, walau kemenangan yang diraih namun empat hari berikutnya ketika second leg di mainkan di stadion wilis, madiun, tragedi lima menit terakhir kembali merengut korbannya, kalau di stadion kanjuruhan lima menit terakhir diselamatkan, tidak demikian di madiun, lima menit terakhir sebuah gol tercipta sehingga menjadikan agregat gol 4-3 untuk persibo bojonegoro, artinya sang juara COPA INDONESIA dua kali berturut-turut harus tersingkir.
malam itu seusai pertandingan hanya awan pekat yang menutupi di atas kota malang, hujan pun telah pergi, ia telah menyampaikan pesannya dengan baik dan meninggalkan kesedihan dan perasaan yang terpukul bagi warga kota malang.
esoknya headline berita olahraga di beberapa media cetak kebanyakan memuat berita yang sama yaitu tentang persibo sang pembunuh raksasa.
ya kami harus melupakan piala COPA itu, mungkin bukan saatnya sekarang kami juara untuk yang ketiga kalinya tahun ini, kini tinggal satu piala lagi yakni piala presiden di indonesian super league yang masih tersisa, kalau tidak sekarang kapan lagi, kami menunggu untuk melihat kapten tim arema mengangkat piala itu...

16 September 2008

buat para pengadil lapangan hijau


photo dari sini

Tidakkah kau sadari wahai para wasit bahwa kinerjamu sangatlah buruk
Dan itu terus saja berulang kali terjadi
Tanpa ada perbaikan dan itikad untuk berubah
Ini bukan soal salah menyalahkan tetapi kenyataan yang berbicara

Semua tahu dan menyaksikan keputusan yang kau berikan malam itu
Keputusan yang seharusnya tidak diberikan
Terhadap apa yang tidak dilakukan dan tidak terjadi
Tetapi tetap saja dilakukan di atas segala arogan pembenaran yang bodoh
Kami juga tahu anda adalah manusia biasa seperti kami
Tetapi kenapa intrik-intrik kotor yang selalu kau bawa serta di kepalamu

Sudah lama kami dizolimi seperti ini
Direkayasa seperti ini, diatur sedemikian rupa
Sampai-sampai kami pun hafal atas skenario busukmu
Haruskah kembali pahit yang kami rasakan atas segala perbuatan manis kami
Kami sudah bosan berada di zona kematian ini
Zona kematian akan prestasi dan pertandingan yang jujur
Jangan kungkung kami pada penjara yang kau buat sendiri
Menghalalkan segala cara untuk membunuh kemurnian sportivitas

Rusuh lagi dan lagi, mungkin terdengar bosan dan kecewa
Ulah segelintir oknum atau penyusup yang tertawa riang malam itu
Mereka-mereka yang tidak suka dan tidak ingin melihat kreativitas positif kami
Dan sangat jelas itu bukan kami para Aremania sejati
Sesungguhnya itu bukan yang kami harapkan
Karena tidak ada asap tanpa api, pemantik itu terus memancing di air tenang
Tetapi itulah jalan terjal yang harus ditempuh saat ini
Kami tidak akan pernah berhenti berteriak atas segala ketidakberesan yang terjadi
Berteriak untuk sesegera mungkin dilakukan perbaikan dan perubahan
Perjuangan demi untuk kemajuan di suatu saat nanti di masa mendatang
Untuk sepakbola Indonesia

jangan menyulut tumpukan jerami yang kering itu
karena apinya akan menyala dengan sangat besar...

matur suwun buat nawak-nawak dari Dunia Cyber yang telah ikut membantu dan andil dalam peran sertanya memajukan prinsip-prinsip fair play di dalam persepakbolaan tanah air, malas utas awij...

11 Agustus 2008

goodbye coach...


Bambang Nurdiansah atau yang akrab disapa Banur selaku pelatih kepala Arema menyatakan mengundurkan diri dari skuad singo edan setelah laga home kedua usai digelar, alasan yang dikemukakan yaitu bahwa beliau merasa gagal memetik poin penuh atau memberikan kemenangan di kandang, selain itu juga dikatakan bahwa banur juga merasa tidak nyaman atas berbagai tekanan yang dilayangkan kepadanya, juga termasuk di dalamnya berupa pesan layanan singkat (sms) yang katanya berasal dari aremania, nah alasan yang terakhir ini yang patut dipertanyakan kembali apakah seorang pelatih professional sekelas pelatih Timnas yang berlisensi A dari FIFA bersikap seperti kekanak kanakan begitu dan mudah tersulut emosi semata, semakin terlihatlah kualitas mental yang diusungnya selama ini, dan juga bagaimana beliau menyikapi kritik dan saran dari berbagai pihak termasuk dari aremania yang sangat wajar bersikap kritis atas pencapaian hasil yang sudah diperoleh, kami hanya ingin agar karakter permainan tim dikembalikan pada titahnya yang semula yaitu permainan cepat dan keras tapi tidak menjurus kasar yang selama ini tidak terlihat dibawah asuhan pelatih banur, semoga Arema mendapat pelatih baru yang memiliki mental baja dan berjiwa singa sebagai kado istimewa di hari ulang tahunnya yang ke-21 hari ini 11 Agustus 2008...

31 Juli 2008

fisikku disini hatiku disana

photo from here


Sore itu laga Home perdana siap digelar di bumi arema malang city, seperti biasa sejak sebelum tengah hari kuyakini stadion kanjuruhan pasti sudah mulai bergeliat. Ada warna berbeda saat itu, sebagai buntut dari sangsi bodoh berupa pelarangan atribut dan penelanjangan kreativitas oleh komisi yang katanya disiplin itu tidak seperti biasanya kami yang selalu membirukan isi stadion, hari itu bersepakat mengenakan kaus hitam sebagai simbol duka cita atas matinya hati nurani PSSI dan sebagai pengganti syal adalah bendera merah putih yang menandakan bahwa kami juga mendukung sepakbola nasional.

Aku seharusnya berada disana, menggelorakan semangat, memberi dukungan dan menyuarakan nyawa pemain ke-12 bagi singo edan yang sedang berjuang, tapi untuk kali ini fisik ini hanya bisa terdampar saja di tengah terik menyengatnya ibukota, terjebak dalam kepadatannya. Buatku tayangan langsung dari layar kaca itu hanyalah gambaran visual saja, hatiku berusaha hadir dalam riuh rendahnya suasana yang sesunguhnya.

Sampai akhirnya pluit panjang ditiupkan tanda berakhirnya pertandingan, hasil akhir pun tercatat miris, kami tercabik 2 gol lawan tanpa balas dan itu terjadi di kandang sendiri, satu lagi lagu kekecewaan terlantun, seakan tak percaya saja, bisa kubayangkan banyak wajah disana menatap nanar, tertunduk lesu, terpaku kosong, kekalahan yang begitu memukul…

Kaus hitam yang menghitamkan stadion kanjuruhan sore itu benar-benar menjelma sebagai awan hitam yang menggelapkan kemenangan yang kami inginkan, tetapi itulah permainan, ada kalah ada menang dan sportivitas harus berada di tempat yang paling tinggi.

Itu baru untuk si kulit bundar saja, bagaimana persembahan hati untuk yang lain, hanya aku sendiri yang tahu, sementara ini biarlah kugenggam sendiri…

11 Juli 2008

kami datang...



Stadion Jalak Harupat

photo from here


Akhirnya Indonesian Super League (ISL) mulai bergulir, inilah kasta tertinggi kompetisi sepakbola di tanah air, setelah penantian panjang terlaksanalah liga professional untuk yang pertama kalinya di tahun ini. Ada 18 klub yang akan ikut berkompetisi, salah satunya yaitu Tim Singo Edan AREMA MALANG. Dan di hari sabtu ini akan dimulailah Liga Super itu, berdasarkan jadwal yang di rilis Badan Liga Indonesia, AREMA memulai kiprahnya dengan pertandingan away di luar kandang, tepatnya 12 juli versus PERSITA, inilah yang ditunggu-tunggu para Aremania sejagat raya, pertandingan pertama, sebagai langkah awal setelah menjalani berbagai rangkaian Trainning Center dan ujicoba. Karena sang calon lawan PERSITA bermasalah dengan Home Base, maka BLI memutuskan pertandingan akan dilaksanakan di Stadion Si Jalak Harupat Soreang, Bandung Jawa Barat dan nawak-nawak Aremaniapun telah bersiap mendukung tim kesayangan dimanapun AREMA bertanding.

You’ll never walk alone, Follow With Pride…

Bandung, kami datang…

19 Mei 2008

antri rek...



Ada kalanya manusia itu baru patuh jika bukan manusia lagi yang memerintahnya…
Seekor kadalpun ikut gembira budaya antri dikalangan para binatang dapat diterapkan kepada sesama makhluk hidup lainnya
Kadal dan teman-temannya aja bisa, masa kita yang sering mengkadali sesuatu tidak…
Malu donk ah…
Malu sama siapa kad…
Ya sama diri sendiri…

kami ada



Dihukumpun kami selalu terus berkreativitas…
Sanksi itu tak membuat kami mati akan ide-ide segar
yang menyuarakan sportivitas dan Fair Play yang sebenarnya…
Aremania tidak kemana-mana
Tetapi ada dimana-mana

No Balang-balang
No Obong-obong
No Tawuran
No Anarki
No Rasisme
Just Good Football Indonesia

Satukan tekadmu
Kobarkan semangatmu
Karena kami Aremania
Selalu mendukungmu

rest in charge


Istirahat !!!

Ngopi-ngopi,ngeteh,nyusu…
Polisi juga manusia…
Punya stamina yang harus di charge…
Biar kuat mukulnya
Keras tendangannya
dan tebal kantongnya…

16 Mei 2008

12 Mei


Tanggal itu menjadi sangat historikal bagiku, di tanggal itu 7 Tahun lalu almarhum papa telah kembali ke hadapan Sang Khalik, tak terasa sudah, seakan beliau masih selalu bersamaku di dunia yang fana ini.Dan di Tahun 2008 ini berbagai peristiwa begitu marak mewarnai tanggal tersebut. sebagaimana diketahui bahwa tanggal itu juga diperingati tragedi penembakan mahasiswa trisakti dan pada tanggal itu juga saya dan teman-teman dari Komunitas Suporter Indonesia kembali menyatukan tekad berunjuk rasa menuntut Reformasi di tubuh PSSI dengan hidangan utama lengsernya Nurdin Halid plus jajarannya dari kepengurusan mengelola sepakbola di negeri ini.

Ada 3 tempat yang kami sasar yaitu Istana Presiden, KON/KOI yang dulu bernama KONI dan tentunya kantor PSSI. Ini adalah kali kedua kami melakukan unjuk suara, rasa dan asa. Komunitas Suporter ini terdiri dari berbagai kelompok pendukung tim kesayangan mereka yang datang dari belahan pelosok Indonesia, hanya saja yang hadir pada saat itu berkisar sekitar pulau jawa saja, salah satunya Aremania, yang datang langsung dari bumi Malang tercinta sekitar puluhan orang, pagi itu mereka baru saja menginjakan kakinya di tanah Batavia setelah melakukan perjalanan dengan kereta berlabel ekonomi selama 20 jam lamanya, saat itu juga mereka menuju tempat pertama yaitu Istana Presiden, jangankan bertemu, mencium bau istana pun kami tak sempat karena kami langsung digiring silup alias aparat menuju tempat yang ditentukan sekitar kawasan Monas, kami ingin bertemu Bapak Presiden bukan berwisata naik delman yang kini juga sudah digusur, ternyata kami tidak sendiri di tempat itu, tercatat ada 18 elemen kelompok massa yang antri akan melakukan demo mengusung tema-tema krusial yang mendera perasaan dan kegusaran akan derita berkepanjangan yang tak kunjung selesai bergejolak menampar dengan keras di wajah manusia bernama rakyat.

Entah kenapa tanggal 12 mei pada hari itu dipilih banyak orang untuk menyuarakan sejuta asa untuk semilyar masalah, sepeninggal kami di tempat itu berturut turut datang ribuan mahasiswa dan elemen massa yang lain, bahkan para mahasiswa itu menuntaskan hajat mereka dengan menginap hingga keesokan harinya. Di gedung KON/KOI yang katanya dikatakan sebagai induknya olah raga kami menumpahkan kembali segala kegundahan dan kekhawatiran bak seorang anak yang pulang menemui induk semangnya, rupanya setali seia sekata tergambar dengan harmonis antara visi Ibu Rita Subowo dengan visi kami walau tak bertemu secara langsung dengan beliau yang sedang bertugas di luar negeri , melalui staf-stafnya kami mendapat penjelasan yang gamblang dan terarah, karena memang Komite ini pun juga sudah gerah dengan tingkah polah salah satu anggotanya yang bernama PSSI. Bertambahlah 1jurus jitu lagi untuk membrangus kezholiman dan sikap arogan PSSI.

Matahari semakin terik bersinar ketika kami sampai di kantor PSSI seakan menyapa dengan salam yang tidak bersahabat, pada demo pertama kami bertemu sang sekjen nugraha ngak besoes yang bisanya cuma memutarbalikkan fakta-fakta dan berkelit dibalik ketiak Nurdin Halid, sedang pada demo kedua ini orang-orang itu tidak menampakkan batang hidungnya seolah olah merasa hilang ditelan bumi atau sebaliknya sengaja menghindar , hanya ada seorang staff bidang prasarana yang datang menemui kami, dari sepatah dua patah kata yang terlontar terlihat jelas bahwa orang ini sangat tidak berkompeten dan terlalu melindungi sang majikan yang kini bersemayam di bui salemba, kontan saja kami menyuruhnya untuk masuk kembali dan memilih untuk tidak mendengar lagi pengulangan-pengulangan kelakar yang sudah sampai pada taraf memuakkan, alhasil kamipun diizinkan untuk menggledah satu persatu ruangan di dalam kantor itu untuk mencari siapa lagi lakon yang dipersiapkan untuk berhadapan dengan kami kalau-kalau ada yang masih bersembunyi di salah satu ruangan, ternyata memang kosong, ironisnya jam kerja saat itu belum menunjukkan waktu selesai...

Ketika matahari kembali pulang ke peraduannya terbitlah hikmah bahwa semua yang kami lakukan itu tidaklah sia-sia semua pasti ada yang lebih mencatat dengan cermat di balik sesuatu kejadian dengan segala niat baik, tulus dan ikhlasnya.

Misi suci ini belum berakhir… kami sepakat untuk terus mengejar pembuat-pembuat ketidakberesan untuk segera lenyap dari usaha-usaha mengkotori olahraga dengan perilaku-perilaku tidak terpuji dan intrik-intrik yang kurang pantas untuk dijadikan teladan.

Kesepakatan pun tercapai dengan mengusung aksi berikutnya yang lebih besar yaitu demo jilid 3 pada tanggal 21 mei memanfaatkan momentum kebangkitan nasional untuk segera bangun dari tidur panjang miskin prestasi dan keterpurukkan yang berkepanjangan.

Kami tidak akan pernah diam dan berhenti untuk terus mengupayakan olahraga sepakbola yang begitu kami cintai agar menjadi industri yang sehat, berprestasi dan membawa nama harum untuk bumi pertiwi.