Pages

24 Maret 2009

jangan ambil jingga dari senja


angin hanya berbisik, tidak membelai
warna api menghias saat sang surya terbakar

ada gelisah yang mencubit
senja disini tak memaknai

ketika semuanya kehilangan arti
seperti ada yang tercabut dari jiwa

lamat-lamat kudengar nyanyian sedih ingin dilagukan
dalam tarian luka di atas kebenaran

akankah sampai kesini...
jangan, katakan untuk berbalik arah saja

kosong ini tiba terlalu segera
saat senja turun tanpa jingga

ada yang hilang

tetapi...

cerah masih setia

15 komentar:

bagus pras mengatakan...

ga saya ambil kok.., saya sisakan buat sampeyan.., saya sudah muak dengan jingga apalagi kuning. Saya suka biru....

Elsa mengatakan...

aku kok tambah pingin nangis baca puisi indah ini yaa
hik hik hik

Neng Aia mengatakan...

kemana jingga?
akhirnya ia berlari juga kepelukan malam...


nice post mas hari! :)

siWi mengatakan...

Huhuhu..
Bagus. banget.
Terima kasih. Lho..??!! ^_^
Meskipun hari ini senja turun tanpa jingga, tapi esok mereka pasti akan bertemu lagi.
Percayalah :)

namaku wendy mengatakan...

wedew jangan cubit-cubit, ganjen kali lah ckckck
angin hanya berbisik (pantes aku gak denger), tidak membelai (tapi memeluk)
hehehe puisi apik-apik koq malah drusuhi to *pentungpentung*
jingga akan kembali ke pelukan senja
ia hanya pergi utk sesaat
jadi jangan cemaskan jingga yah, langit kan menjaganya;)

Benazio R.P mengatakan...

duh puitis banget yaa .. hihi ;)

nona senja mengatakan...

wehey...saya suka jingga

Meidy mengatakan...

beneran mas, saya ga ambil kok.. tadi jingga pergi sdiri.. :) eniwei, puitis bgt mas, saya kok ga bisa ya bikin kalimat2 manis spt ini ya.. :)

nandien mengatakan...

indahnya langit jingga di kala senja :)

hari Lazuardi mengatakan...

to bagus pras :
kalau untuk yang kuning kita sama mas, saya juga muak, hihi...

to elsa :
kebetulan mba e sedang dilanda sedih ya...

to neng aia :
katanya ga berlari tuh tapi sambil jalan santai aja, takut kesandung :)

to siWi :
aku percoyo...

to wendy :
wah perusuh yang satu ini bisa juga ber mellow-mellow ria, hehe...

to benazio :
tararengkyu ya bapake rumah blogger, sudah menjengukku :)

to winda :
sisakan sedikit ya buatku :)

to meidy :
hehehe...
jingga punya kaki ya...

to nandien :
dan juga..

laksana temaram yang merangkul...
melepas rindunya di ujung hari
berpamitan menuju sang malam..

cebong ipiet mengatakan...

ndka tak ambil..silahkan bungkus bwt panjenengan

hari Lazuardi mengatakan...

to cebong ipiet:
bungkus e ga cukup, ga ono seng lebaaaaar, piye to iki :)

Kuyus is cute mengatakan...

Senja itu indah .. meninggalkan pesan
Pesan jingga yang tak pernah mendua
Senja itu kemilau .. meninggalkan warna
Warna warna yang tak mampu terpisah ketika matahari pun kelak tertidur

Senja itu temaram, menyajikan puisi puisi klasik dengan bahasanya
Menyajikan tepukan tepukan kekaguman yang mengangguk anggukkan pengagumnya
Menyajikan riuh rendah burung burung yang terbang pulang dengan formasinya
Menyajikan lembayung megah dengan biru, kekuningan yang tergores

Senja itu mendecakkan kagum
Mendecakkan syukur yang panjang di hati manusia manusia yang bergumam
Mendecakkan keteduhan keteduhan nurani tanpa bosan itu menghampiri
Mendecakkan keagungan yang tak mampu terlukis oleh bahasa

Dan senja pun beranjak pergi
Meninggalkan kau, aku ... dan kita yang masih berdiri
Meninggalkan hari yang tertulis indah oleh genggaman tangan tangan bersama
Meninggalkan letih sejenak dan terlelap

Dias mengatakan...

Hmmm...

Puisina bgs bgt mas...

Jadi inget dya gi...

hari Lazuardi mengatakan...

to kuyus:
kamu benar, jingga tak pernah mendua..
karena seperti sehati, jika hati yang satunya tidak hadir maka akan terasa hambar..
puisi yang indah ini benar-benar menghiburku, nuhun pisan ya...

to dias :
selamat mengingat..