Pages

24 Juli 2009

bulan sang pesolek

ada saja yang terdengar di angkasa sore
riuh rendah suara bayangan bulat bersiap-siap
selepas senja di penghujung remang

minggir !!! beri aku jalan..
seperti ingin segera bergegas saja tak sabar..

awan pun pulang terburu-buru
burung sore hanya terdiam di pucuk ranting keheningan

“it’s show time..” begitu seru riangnya..

saatnya melayang seperti semilir
memberi pendar serupa halus cahaya

pupur telah menghias sampai bedecak debu
karena tebalnya menyaingi lapisan bumi

tak perlu gincu untuk memikat
cukup dengan sebuah sungging senyum yang memanggil

gerhana adalah luapan murkanya
dan ketika purnama, kutahu saat itu engkau sedang tersenyum manis

tetaplah bersolek mendampingi malam yang syahdu ini
malam yang akan menjadi lebih panjang..
karena ada pesona anggun dan kerlipan genitmu

kamulah bulan sang pesolek..

16 komentar:

Newsoul mengatakan...

Kono sang bulan bersolek untuk kita, agar malam menjadi indah. Agar kita betah berlama-lama menggeluti malam.

namaku wendy mengatakan...

lah nek ngunu sini pinjem pupur ma gincune mas kekeke

zujoe mengatakan...

puisinya bagus mas..

aku menikmatinya tapi nggak bisa mengkritisinya hihi...

Tisti Rabbani mengatakan...

sepertinya bulan malam ini tak menampakkan dirinya...
sinar peraknya terhalang awan hitam...

Elsa mengatakan...

Bulan memang perlu bersolek...
kan permukaan wajahnya bolong-bolong penuh kawah tuh...

amalia mengatakan...

heeemmm.... andai ku tau ia bersolek kemarin .. ingin ku menyambanginya untuk meminjamkan bulumata lentikku padanya agar lebig tantiiik...

hari Lazuardi mengatakan...

to newsoul :
sebenarnya tanpa bersolek pun bulan akan selalu indah buatku..

to wendy :
oalah durung adus ngunu loh.. koq wes katene dandan dandin..

to zujoe :
selamat menikmati.. hehe.. kayak tulisan yang ada di resto-resto..

to mba tisti :
andai bisa ditiup awan hitamnya, apa daya niup lilin aja kadang suka ga mati..
hehe..

to elsa :
kalau bolong ditambal pakai apa ya enaknya.. didempul sepertinya bisa, tapi nang mbulan e iku rek seng adoh tenin, hihihi..

to amalia :
wah nanti jika ia berkedip ada suara ting..tingnya ntuh.. :)

buwel mengatakan...

wooooowww personifikasinya pass banget neh...kerennnnn

ardan mengatakan...

tak dandan dulu ya :D

buwel mengatakan...

muantabbbbbb

si dede jadul punya mengatakan...

GREAT!!!
i think this is the best posting of ur blog, mas.
bgs bgt analoginya..

Endri Mulliadi mengatakan...

namun, bulan gak selalu tersenyum..satu ketika dia manyun..kenapa yah??

salam kenal mas hari.. bravo tuk puisi-puisinya.
jangan lupa mampir ke blogku.

hari Lazuardi mengatakan...

to buwel :
Tingkyu..

to dede :
hanya analogi..
lebih indah bulan itu sendiri di angkasa malamnya..

to endri :
salam kenal juga..

Cengkunek mengatakan...

mau bikin puisi 'pesolek sang bulan'
tapi gak bisa..
gak pande puisi

Newsoul mengatakan...

Mas Hari, masih bersolekah sang bulan malam ini ? Saya mengejar jejakmu tadi. Blognya sangat banyak, cukup membingungkan, akhirnya terdampar lagi disini. Sang bulan, selalu indah juga di jiwa saya, meski tanpa bersolek.

hari Lazuardi mengatakan...

to cengkunek :
blum dicoba kale..
ayo cuba lagee..

to mba elly :
masih mba, tapi separuh wajah..