

Photo jengkol dari sini
Ketika aku diberitahu bahwa kakak iparku akan berlibur ke tanah air maka yang terbayang olehku adalah jengkol, kenapa? ya karena beliau adalah jengkolholic sejati, maklum saja di negeri tempatnya kini tinggal di jerman sana sayuran yang satu itu tak dapat ditemukan, sudah beberapa kali beliau selalu memesan dan memberi tugas mencarinya kepadaku, benar saja kali ini beliau memesan 5 kilo untuk dibawanya pulang.
Bagiku sendiri memakan jengkol satu atau dua potong tidak menjadi masalah apalagi jika sudah berbentuk semur, rendang atau diberi sambal balado merah yang mengundang, rasanya sih lumayan empuk empuk gimana gitu, nah.. yang menjadi masalah adalah ketika masih dalam keadaan mentah, baunya itu loh, smells not good alias menyengat dan menusuk hidung.
Perburuanpun dimulai di suatu pasar tradisional yang beceks dan banyak ojeknya itu, setelah susur sana susur sini apa yang terjadi soudara soudara, ternyata sayur bulat itu menghilang entah kemana alias menjadi barang langka, kalaupun ada itupun sudah kisut dan layu, kecil pula sizenya, he.he don’t think about it sementara yang aku cari yang besar-besar dan tidak terlalu muda. Maka pencarianpun berlanjut ke pasar tradisional yang lain, mulai menjengkolkan juga nih lama-lama, seperti firasatku yang semula, di pasar yang lainpun yang menjualnya hanya satu dua orang saja, sudah bisa ditebak karena menjadi barang langka, harganyapun dipatok Rp.15.000 /kilo jika sebelumnya hanya berkisaran Rp.8000/kilo.
Akhirnya terkumpulah 5 kilo sayur dengan bau yang menyengat itu, coba anda hirup satu keping saja baunya seperti apa, nah.. ini 5 kilo, tidak perlu dicium, dilihat saja bau itu akan berjalan sendiri mendatangi kedua lubang hidung anda, sekali lagi benar-benar menjengkolkan…
Perjalanan si jengkol pun dimulai melalui jasa paket pengiriman, ia kutempatkan pada satu box kardus yang kuberi lubang ventilasi agar sirkulasi udara bisa mengurangi kebusukannya dan tentunya berbagi bau dengan kurir pengantarnya nanti, kukirim ia ke Surabaya terlebih dahulu karena memang disanalah kakak iparku itu kini berada sebelum nantinya kembali ke Frankfurt. Alangkah beruntungnya si jengkol itu, ia bisa terbang ke Eropa sana sementara aku hanya bisa membayangkan saja, kalau begitu titipkan saja salamku buat Oliver Kahn dan Michael Ballack…